Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia Juni 2019 mencapai 1,45 juta kunjungan.

Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia Juni 2019 mencapai 1,45 juta kunjungan.

2019-08-01

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Juni 2019 mengalami kenaikan 9,94 persen dibanding jumlah kunjungan pada Juni 2018. Begitu pula, jika dibandingkan dengan Mei 2019, jumlah kunjungan wisman pada Juni 2019 mengalami kenaikan sebesar 15,48 persen. Secara kumulatif (Januari–Juni 2019), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 7,83 juta kunjungan atau naik 4,01 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2018 yang berjumlah 7,53 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Juni 2019 mencapai rata-rata 52,27 persen atau naik 0,23 poin dibandingkan dengan TPK Juni 2018 yang tercatat sebesar 52,04 persen. Demikian pula, jika dibanding TPK Mei 2019, TPK hotel klasifikasi bintang pada Juni 2019 mengalami kenaikan sebesar 8,74 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama Juni 2019 tercatat sebesar 1,77 hari, terjadi penurunan sebesar 0,08 poin jika dibandingkan keadaan Juni 2018.

Download PDF
Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2019 Sebesar 102,63 atau Naik 0,29 Persen

Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2019 Sebesar 102,63 atau Naik 0,29 Persen

2019-08-01

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.NTP nasional Juli 2019 sebesar 102,63 atau naik 0,29 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,70 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,41 persen.Pada Juli 2019, NTP Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan tertinggi (1,90 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sumatera Selatan mengalami penurunan terbesar (0,96 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.Pada Juli 2019 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,55 persen, dengan kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan.Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Juli 2019 sebesar 112,68 atau naik sebesar 0,60 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.Dari 1.734 transaksi penjualan gabah di 27 provinsi selama Juli 2019, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 73,24 persen, gabah kering giling (GKG) 13,09 persen, dan gabah kualitas rendah 13,67 persen.Selama Juli 2019, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp4.618,00 per kg atau naik 1,46 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.712,00 per kg atau naik 1,22 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya. Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp5.277,00 per kg atau naik 0,60 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.385,00 per kg atau naik 0,44 persen. Harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp4.254,00 per kg atau naik 1,58 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.360,00 per kg atau naik 1,69 persen.Dibandingkan Juli 2018, rata-rata harga gabah pada Juli 2019 di tingkat petani untuk kualitas GKP dan rendah mengalami penurunan masing-masing 0,31 persen dan 0,10 persen, sedangkan GKG naik sebesar 1,36 persen. Demikian juga di tingkat penggilingan, rata-rata harga pada Juli 2019 dibandingkan dengan Juli 2018 untuk kualitas GKP dan rendah mengalami penurunan masing-masing 0,08 persen dan 0,01 persen, sedangkan GKG naik sebesar 1,36 persen.Pada Juli 2019, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.519,00 per kg, naik sebesar 0,04 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp9.211,00 per kg, naik sebesar 0,49 persen. Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp8.931,00 per kg, turun sebesar 0,89 persen.Dibandingkan dengan Juli 2018, rata-rata harga beras di penggilingan pada Juli 2019 untuk kualitas premium dan rendah mengalami penurunan masing-masing 0,01 persen dan 0,93 persen, sedangkan kualitas medium mengalami kenaikan 0,14 persen.

Download PDF
Juli 2019, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas turun 0,05 persen

Juli 2019, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas turun 0,05 persen

2019-08-01

Pada Juli 2019, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen turun sebesar 0,05 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 0,56 persen. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada Juli 2019 antara lain jeruk, bawang merah, tomat, batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), solar industri, serta bijih, kerak, dan abu logam ekspor. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Juli 2019 naik sebesar 0,05 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh kenaikan harga komoditas bak dan tangki, batu bata, aspal, alat konstruksi, serta kloset, wastafel, dan sejenisnya. IHPB Umum turun 0,72 persen pada Juni 2019 terhadap bulan sebelumnya. Kelompok Barang Ekspor merupakan penyumbang andil dominan pada penurunan IHPB, yaitu sebesar negatif 0,63 persen. IHPB Kelompok Barang Impor dan Kelompok Barang Ekspor pada Juni 2019 masing-masing turun sebesar 1,68 persen dan 3,07 persen terhadap bulan sebelumnya.

Download PDF
Juli 2019 inflasi sebesar 0,31 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,88 persen.

Juli 2019 inflasi sebesar 0,31 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,88 persen.

2019-08-01

Pada Juli 2019 terjadi inflasi sebesar 0,31 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 138,59. Dari 82 kota IHK, 55 kota mengalami inflasi dan 27 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,88 persen dengan IHK sebesar 148,33 dan terendah terjadi di Makassar sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 139,39. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 1,55 persen dengan IHK sebesar 158,34 dan terendah terjadi di Gorontalo sebesar 0,02 persen dengan IHK sebesar 132,42. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,80 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,24 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,14 persen; kelompok sandang sebesar 0,70 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,18 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,92 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,36 persen. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Juli) 2019 sebesar 2,36 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2019 terhadap Juli 2018) sebesar 3,32 persen. Komponen inti pada Juli 2019 mengalami inflasi sebesar 0,33 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari– Juli) 2019 sebesar 1,89 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Juli 2019 terhadap Juli 2018) sebesar 3,18 persen.

Download PDF
Triwulan II-2019 Harga Produsen Mengalami Inflasi 0,01 Persen

Triwulan II-2019 Harga Produsen Mengalami Inflasi 0,01 Persen

2019-08-01

Indeks Harga Produsen (IHP) triwulan II-2019 naik 0,01 persen terhadap triwulan I-2019 (q-to-q) dan naik 1,64 persen terhadap triwulan II-2018 (y-on-y).IHP Sektor Pertanian triwulan II-2019 turun 0,82 persen terhadap triwulan I-2019 (q-to-q) dan naik 1,92 persen terhadap triwulan II-2018 (y-on-y).IHP Sektor Pertambangan dan Penggalian triwulan II-2019 naik 0,07 persen dibandingkan triwulan I-2019 (q-to-q) dan turun 0,89 persen terhadap triwulan II-2018 (y-on-y).IHP Sektor Industri Pengolahan triwulan II-2019 naik 0,25 persen terhadap triwulan I-2019 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan II-2018 (y-on-y) naik 1,95 persen.IHP Sektor Pengadaan Listrik dan Gas triwulan II-2019 naik 0,06 persen dibandingkan dengan triwulan I-2019 (q-to-q) dan terhadap triwulan II-2018 (y-on-y) naik 0,46 persen.IHP Sektor Pengelolaan Air triwulan II-2019 naik 0,02 persen dibandingkan dengan triwulan I-2019 (q-to-q) dan naik 0,07 persen terhadap triwulan II-2018 (y-on-y).IHP Sektor Angkutan Penumpang triwulan II-2019 naik 1,04 persen terhadap triwulan I-2019 (q-to-q) sedangkan terhadap triwulan II-2018 (y-on-y) naik 5,56 persen.IHP Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makanan Minuman triwulan II-2019 naik 0,26 persen terhadap triwulan I-2019 (q-to-q) dan naik 0,95 persen terhadap triwulan II-2018 (y-on-y).IHP Sektor Jasa Pendidikan triwulan II-2019 naik 0,11 persen terhadap triwulan I-2019 (q-to-q) sedangkan terhadap triwulan II-2018 (y-on-y) naik 4,57 persen.IHP Sektor Jasa Kesehatan triwulan II-2019 naik 0,42 persen terhadap triwulan I-2019 (q-to-q) dan naik 2,08 persen terhadap triwulan II-2018 (y-on-y).

Download PDF
IDI Nasional 2018 Mengalami Peningkatan Dibandingkan dengan IDI Nasional 2017

IDI Nasional 2018 Mengalami Peningkatan Dibandingkan dengan IDI Nasional 2017

2019-07-29

Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) adalah indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia. Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan 3 aspek, 11 variabel, dan 28 indikator demokrasi.Metodologi penghitungan IDI menggunakan 4 sumber data yaitu: (1) review surat kabar lokal, (2) review dokumen (Perda, Pergub, dll), (3) Focus Group Discussion (FGD), dan (4) wawancara mendalam. IDI 2018 mencapai angka 72,39 dalam skala 0 sampai 100. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan angka IDI 2017 yang sebesar 72,11. Capaian kinerja demokrasi Indonesia tersebut masih berada pada kategori “sedang”. IDI dari 2017–2018 dipengaruhi oleh penurunan aspek Kebebasan Sipil sebesar 0,29 poin (dari 78,75 menjadi 78,46), penurunan aspek Hak-hak Politik sebesar 0,84 poin (dari 66,63 menjadi 65,79) dan kenaikan aspek Lembaga Demokrasi sebesar 2,76 poin (dari 72,49 menjadi 75,25).

Download PDF
Upah Nominal Harian Buruh Tani Nasional Juni 2019 Naik Sebesar 0,18 Persen

Upah Nominal Harian Buruh Tani Nasional Juni 2019 Naik Sebesar 0,18 Persen

2019-07-15

Upah nominal buruh/pekerja adalah rata-rata upah harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan.Upah riil buruh/pekerja menggambarkan daya beli dari pendapatan/upah yang diterima buruh/pekerja.Upah riil buruh tani adalah perbandingan antara upah nominal buruh tani dengan indeks konsumsi rumah tangga perdesaan, sedangkan upah riil buruh bangunan adalah perbandingan upah nominal buruh bangunan terhadap indeks harga konsumen perkotaan.Upah nominal harian buruh tani nasional pada Juni 2019 naik sebesar 0,18 persen dibanding upah buruh tani Mei 2019, yaitu dari Rp54.056,00 menjadi Rp54.152,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,39 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juni 2019 naik 0,05 persen dibanding upah Mei 2019, yaitu dari Rp88.664,00 menjadi Rp88.708,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,50 persen.

Download PDF
Gini Ratio Maret 2019 tercatat sebesar 0,382

Gini Ratio Maret 2019 tercatat sebesar 0,382

2019-07-15

Pada Maret 2019, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,382. Angka ini menurun 0,002 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,384 dan menurun 0,007 poin dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,389. Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,392, naik dibanding Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,391 dan turun dibanding Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,401. Gini Ratio di daerah perdesaan pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,317, turun dibanding Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,319 dan Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,324. Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 17,71 persen. Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada Maret 2019 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,93 persen yang berarti tergolong pada kategori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 20,59 persen, yang berarti tergolong dalam kategori ketimpangan rendah.

Download PDF
Persentase Penduduk Miskin Maret 2019 Sebesar 9,41 Persen

Persentase Penduduk Miskin Maret 2019 Sebesar 9,41 Persen

2019-07-15

Persentase penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 9,41 persen, menurun 0,25 persen poin terhadap September 2018 dan menurun 0,41 persen poin terhadap Maret 2018.Jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 25,14 juta orang, menurun 0,53 juta orang terhadap September 2018 dan menurun 0,80 juta orang terhadap Maret 2018.Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2018 sebesar 6,89 persen, turun menjadi 6,69 persen pada Maret 2019. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2018 sebesar 13,10 persen, turun menjadi 12,85 persen pada Maret 2019.Dibanding September 2018, jumlah penduduk miskin Maret 2019 di daerah perkotaan turun sebanyak 136,5 ribu orang (dari 10,13 juta orang pada September 2018 menjadi 9,99 juta orang pada Maret 2019). Sementara itu, daerah perdesaan turun sebanyak 393,4 ribu orang (dari 15,54 juta orang pada September 2018 menjadi 15,15 juta orang pada Maret 2019).Garis Kemiskinan pada Maret 2019 tercatat sebesar Rp425.250,-/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp313.232,- (73,66 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp112.018,- (26,34 persen).Pada Maret 2019, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,68 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp1.990.170,-/rumah tangga miskin/bulan.

Download PDF
Ekspor Juni 2019 Mencapai US$11,78 Miliar, sedangkan nilai impor mencapai US$11,58 miliar

Ekspor Juni 2019 Mencapai US$11,78 Miliar, sedangkan nilai impor mencapai US$11,58 miliar

2019-07-15

Nilai ekspor Indonesia Juni 2019 mencapai US$11,78 miliar atau menurun 20,54 persen dibanding ekspor Mei 2019. Demikian juga jika dibanding Juni 2018 menurun 8,98 persen.Ekspor nonmigas Juni 2019 mencapai US$11,03 miliar, turun 19,39 persen dibanding Mei 2019. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Juni 2018, turun 2,31 persen. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Juni 2019 mencapai US$80,32 miliar atau menurun 8,57 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$74,21 miliar atau menurun 6,54 persen. Penurunan terbesar ekspor nonmigas Juni 2019 terhadap Mei 2019 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$336,9 juta (16,31 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada perhiasan/ permata sebesar US$368,1 juta (88,66 persen). Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Juni 2019 turun 4,59 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 1,03 persen, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 15,44 persen. Ekspor nonmigas Juni 2019 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$1,82 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,08 miliar dan Jepang US$1,02 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,50 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$0,97 miliar.Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Juni 2019 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$14,50 miliar (18,05 persen), diikuti Jawa Timur US$9,24 miliar (11,50 persen) dan Kalimantan Timur US$8,35 miliar (10,40 persen).Nilai impor Indonesia Juni 2019 mencapai US$11,58 miliar atau turun 20,70 persen dibanding Mei 2019, namun jika dibandingkan Juni 2018 naik 2,80 persen. Impor nonmigas Juni 2019 mencapai US$9,87 miliar atau turun 20,55 persen dibanding Mei 2019, sebaliknya jika dibandingkan Juni 2018 naik 8,15 persen. Impor migas Juni 2019 mencapai US$1,71 miliar atau turun 21,50 persen dibanding Mei 2019. Demikian pula jika dibandingkan Juni 2018 turun 19,99 persen. Penurunan impor nonmigas terbesar Juni 2019 dibanding Mei 2019 adalah golongan mesin/pesawat mekanik sebesar US$399,6 juta (18,79 persen), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan aluminium sebesar US$143,2 juta (103,17 persen). Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Juni 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$20,63 miliar (28,91 persen), Jepang US$7,66 miliar (10,73 persen), dan Thailand US$4,62 miliar (6,48 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 19,44 persen, sementara dari Uni Eropa 8,20 persen.Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–Juni 2019 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 9,31 persen, 7,73 persen, dan 6,15 persen.

Download PDF