Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK)   Indonesia Tahun 2019 sebesar 3,70.

Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia Tahun 2019 sebesar 3,70.

2019-09-16

Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia tahun 2019 sebesar 3,70 pada skala 0 sampai 5. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2018 sebesar 3,66.Nilai indeks semakin mendekati 5 menunjukkan bahwa masyarakat berperilaku semakin anti korupsi, sebaliknya nilai IPAK yang semakin mendekat 0 menunjukkan bahwa masyarakat berperilaku semakin permisif terhadap korupsi.Indeks Perilaku Anti Korupsi disusun berdasarkan dua dimensi, yaitu Dimensi Persepsi dan Dimensi Pengalaman. Pada tahun 2019, nilai Indeks Persepsi sebesar 3,80, menurun sebesar 0,06 poin dibandingkan Indeks Persepsi tahun 2018 (3,86). Sebaliknya, Indeks Pengalaman tahun 2019 (3,65) naik sebesar 0,08 poin dibanding indeks pengalaman tahun 2018 (3,57).Pada tahun 2019, IPAK masyarakat perkotaan lebih tnggi (3,86) dibanding masyarakat perdesaan (3,49).Semakin tinggi pendidikan, masyarakat cenderung semakin anti korupsi. Pada tahun 2019, IPAK masyarakat berpendidikan SLTP ke bawah sebesar 3,57; SLTA sebesar 3,94; dan di atas SLTA sebesar 4,05.Masyarakat pada usia 40–59 tahun paling anti korupsi dibanding kelompok usia lain. Tahun 2019, IPAK masyarakat berusia 40 tahun ke bawah sebesar 3,66; usia 40–59 tahun sebesar 3,73; dan usia 60 tahun atau lebih sebesar 3,66.

Download PDF
Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia Juli 2019 mencapai 1,48 juta

Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia Juli 2019 mencapai 1,48 juta

2019-09-02

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Juli 2019 mengalami penurunan 4,10 persen dibanding jumlah kunjungan pada Juli 2018. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Juni 2019, jumlah kunjungan wisman pada Juli 2019 mengalami kenaikan sebesar 2,04 persen. Secara kumulatif (Januari–Juli 2019), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 9,31 juta kunjungan atau naik 2,63 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2018 yang berjumlah 9,07 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Juli 2019 mencapai rata-rata 56,73 persen atau turun 2,57 poin dibandingkan dengan TPK Juli 2018 yang tercatat sebesar 59,30 persen. Sementara itu, jika dibanding TPK Juni 2019, TPK hotel klasifikasi bintang pada Juli 2019 mengalami kenaikan sebesar 4,46 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama Juli 2019 tercatat sebesar 1,80 hari, terjadi kenaikan sebesar 0,07 poin jika dibandingkan keadaan Juli 2018.

Download PDF
Nilai Tukar Petani (NTP) Agustus 2019 sebesar 103,22 atau naik 0,58 persen

Nilai Tukar Petani (NTP) Agustus 2019 sebesar 103,22 atau naik 0,58 persen

2019-09-02

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.NTP nasional Agustus 2019 sebesar 103,22 atau naik 0,58 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,69 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,11 persen.Pada Agustus 2019, NTP Provinsi Banten mengalami kenaikan tertinggi (1,29 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Jambi mengalami penurunan terbesar (1,53 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.Pada Agustus 2019 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,09 persen, dengan kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok sandang.Dari 2.214 transaksi penjualan gabah di 30 provinsi selama Agustus 2019, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 70,28 persen, gabah kering giling (GKG) 12,10 persen, dan gabah kualitas rendah 17,62 persen.Selama Agustus 2019, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp4.759,00 per kg atau naik 3,04 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.856,00 per kg atau naik 3,04 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya. Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp5.309,00 per kg atau naik 0,60 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.423,00 per kg atau naik 0,71 persen. Harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp4.551,00 per kg atau naik 6,97 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.643,00 per kg atau naik 6,48 persen.Dibandingkan Agustus 2018, rata-rata harga gabah pada Agustus 2019 di tingkat petani untuk kualitas GKP mengalami penurunan sebesar 0,32 persen, sedangkan GKG dan rendah naik masing-masing sebesar 0,02 persen dan 4,30 persen. Demikian juga di tingkat penggilingan, rata-rata harga pada Agustus 2019 dibandingkan dengan Agustus 2018 untuk kualitas GKP mengalami penurunan sebesar 0,30 persen, sedangkan GKG dan rendah naik masing-masing sebesar 0,43 persen dan 4,19 persen.Pada Agustus 2019, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.530,00 per kg, naik sebesar 0,11 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp9.224,00 per kg, naik sebesar 0,14 persen. Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp9.048,00 per kg, naik sebesar 1,31 persen.Dibandingkan dengan Agustus 2018, rata-rata harga beras di penggilingan pada Agustus 2019 untuk kualitas premium, medium, dan rendah mengalami kenaikan masing-masing 0,76 persen, 0,56 persen, dan 0,79 persen.

Download PDF
Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas Agustus 2019 naik 0,14 persen

Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas Agustus 2019 naik 0,14 persen

2019-09-02

Pada Agustus 2019, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,14 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Kelompok Barang Ekspor Nonmigas sebesar 0,54 persen.Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Agustus 2019 antara lain cabai merah, cabai rawit, kelapa sawit, sapi, kambing dan domba, serta lemak dan minyak hewan/nabati ekspor.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Agustus 2019 naik sebesar 0,08 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh kenaikan harga komoditas tanah uruk, batako, genteng dan atap lainnya, kerikil dan sirtu alam, serta semen.IHPB Umum turun 0,09 persen pada Juli 2019 terhadap bulan sebelumnya. Kelompok Barang Impor merupakan penyumbang andil dominan pada penurunan IHPB, yaitu sebesar negatif 0,11 persen.IHPB Kelompok Barang Impor pada Juli 2019 turun sebesar 0,68 persen dan Kelompok Barang Ekspor naik sebesar 0,02 persen terhadap bulan sebelumnya.

Download PDF
Agustus 2019 inflasi sebesar 0,12 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Kudus sebesar 0,82 persen

Agustus 2019 inflasi sebesar 0,12 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Kudus sebesar 0,82 persen

2019-09-02

Pada Agustus 2019 terjadi inflasi sebesar 0,12 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 138,75. Dari 82 kota IHK, 44 kota mengalami inflasi dan 38 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kudus sebesar 0,82 persen dengan IHK sebesar 144,56, dan terendah terjadi di Tasikmalaya, Madiun dan Pare-Pare masing-masing sebesar 0,04 persen dengan IHK masing-masing sebesar 134,58, 134,52, dan 132,02. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Bau-Bau sebesar 2,10 persen dengan IHK sebesar 136,38 dan terendah terjadi di Tegal dan Palopo masing-masing sebesar 0,02 persen dengan IHK masing-masing sebesar 134,22 dan 136,35.Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,26 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,23 persen; kelompok sandang sebesar 0,88 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,59 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 1,21 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,19 persen dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,55 persen.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2019 sebesar 2,48 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2019 terhadap Agustus 2018) sebesar 3,49 persen.Komponen inti pada Agustus 2019 mengalami inflasi sebesar 0,43 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Agustus) 2019 sebesar 2,32 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Agustus 2019 terhadap Agustus 2018) sebesar 3,30 persen.

Download PDF
Upah Nominal Harian Buruh Tani Nasional Juli 2019 Naik   Sebesar 0,16 Persen

Upah Nominal Harian Buruh Tani Nasional Juli 2019 Naik Sebesar 0,16 Persen

2019-08-15

Upah nominal buruh/pekerja adalah rata-rata upah harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan.Upah riil buruh/pekerja menggambarkan daya beli dari pendapatan/upah yang diterima buruh/pekerja.Upah riil buruh tani adalah perbandingan antara upah nominal buruh tani dengan indeks konsumsi rumah tangga perdesaan, sedangkan upah riil buruh bangunan adalah perbandingan upah nominal buruh bangunan terhadap indeks harga konsumen perkotaan.Upah nominal harian buruh tani nasional pada Juli 2019 naik sebesar 0,16 persen dibanding upah buruh tani Juni 2019, yaitu dari Rp54.152,00 menjadi Rp54.237,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,39 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juli 2019 naik 0,26 persen dibanding upah Juni 2019, yaitu dari Rp88.708,00 menjadi Rp88.939,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,05 persen.

Download PDF
Ekspor Juli 2019 Mencapai US$15,45 Miliar, sedangkan nilai impor mencapai US$15,51 miliar

Ekspor Juli 2019 Mencapai US$15,45 Miliar, sedangkan nilai impor mencapai US$15,51 miliar

2019-08-15

Nilai ekspor Indonesia Juli 2019 mencapai US$15,45 miliar atau meningkat 31,02 persen dibanding ekspor Juni 2019. Sementara jika dibanding Juli 2018 menurun 5,12 persen. Ekspor nonmigas Juli 2019 mencapai US$13,85 miliar, naik 25,33 persen dibanding Juni 2019. Sementara dibanding ekspor nonmigas Juli 2018, turun 6,88 persen. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Juli 2019 mencapai US$95,79 miliar atau menurun 8,02 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$88,07 miliar atau menurun 6,58 persen. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Juli 2019 terhadap Juni 2019 terjadi pada kendaraan dan bagiannya sebesar US$302,2 juta (58,75 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada perhiasan/ permata sebesar US$116,4 juta (14,86 persen). Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Juli 2019 turun 4,28 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 0,16 persen, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 17,09 persen. Ekspor nonmigas Juli 2019 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$2,28 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,58 miliar dan Jepang US$1,22 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 36,72 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,25 miliar. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Juli 2019 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$17,41 miliar (18,17 persen), diikuti Jawa Timur US$10,89 miliar (11,36 persen) dan Kalimantan Timur US$9,79 miliar (10,22 persen).Nilai impor Indonesia Juli 2019 mencapai US$15,51 miliar atau naik 34,96 persen dibanding Juni 2019, namun jika dibandingkan Juli 2018 turun 15,21 persen. Impor nonmigas Juli 2019 mencapai US$13,77 miliar atau naik 40,72 persen dibanding Juni 2019, sebaliknya jika dibandingkan Juli 2018 turun 11,96 persen. Impor migas Juli 2019 mencapai US$1,75 miliar atau naik 2,04 persen dibanding Juni 2019, namun jika dibandingkan Juli 2018 turun 34,29 persen. Peningkatan impor nonmigas terbesar Juli 2019 dibanding Juni 2019 adalah golongan mesin/pesawat mekanik sebesar US$901,6 juta (52,22 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan aluminium sebesar US$122,0 juta (43,29 persen). Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Juli 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$24,73 miliar (29,08 persen), Jepang US$9,09 miliar (10,69 persen), dan Thailand US$5,46 miliar (6,42 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 19,48 persen, sementara dari Uni Eropa 8,47 persen. Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–Juli 2019 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 10,22 persen, 9,55 persen, dan 5,71 persen.

Download PDF
Ekonomi Indonesia Triwulan II 2019 Tumbuh 5,05 Persen

Ekonomi Indonesia Triwulan II 2019 Tumbuh 5,05 Persen

2019-08-05

Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2019 mencapai Rp3 963,5 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2 735,2 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan II-2019 dibanding triwulan II-2018 tumbuh 5,05 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 10,73 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yang tumbuh sebesar 15,27 persen Ekonomi Indonesia triwulan II-2019 dibanding triwulan I-2019 meningkat sebesar 4,20 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 13,80 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang meningkat signifikan sebesar 36,28 persen. Ekonomi Indonesia semester I-2019 dibanding semester I-2018 tumbuh 5,06 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 10,37 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada Komponen PK-LNPRT yang tumbuh sebesar 16,09 persen. Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan II-2019 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia, yakni sebesar 59,11 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,31 persen, dan Pulau Kalimantan sebesar 8,01 persen. Sementara itu, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh kelompok provinsi di Pulau Sulawesi sebesar 6,76 persen (y-on-y).

Download PDF
Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen   Triwulan II-2019 serta Perkiraan Triwulan III-2019

Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan II-2019 serta Perkiraan Triwulan III-2019

2019-08-05

Indeks Tendensi Bisnis (ITB) triwulan II-2019 sebesar 108,81 menunjukkan kondisi bisnis dan optimisme pelaku bisnis secara umum meningkat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (ITB triwulan I-2019 sebesar 102,10).Pada triwulan III-2019 kondisi bisnis diperkirakan masih tumbuh, namun dengan tingkat optmisme yang lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II-2019. Nilai perkiraan ITB triwulan III-2019 sebesar 105,46.Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan II-2019 sebesar 125,68. Hal ini menunjukkan kondisi ekonomi dan optimisme konsumen meningkat dibanding triwulan sebelumnya (ITK triwulan I-2019 sebesar 104,35).Kondisi ekonomi konsumen triwulan III-2019 cenderung stagnan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Perkiraan nilai ITK triwulan III-2019 sebesar 100,03.

Download PDF
Pertumbuhan Produksi IBS Triwulan II- 2019 Naik 3,62 Persen

Pertumbuhan Produksi IBS Triwulan II- 2019 Naik 3,62 Persen

2019-08-01

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2019 naik sebesar 3,62 persen (y-on-y) terhadap triwulan II-2018. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri pakaian jadi, yaitu naik 25,79 persen. Sementara industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, yaitu turun 21,46 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2019 turun sebesar 1,91 persen (q-to-q) terhadap triwulan I-2019. Industri yang mengalami kenaikan produksi tertinggi adalah jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan, yaitu naik 9,55 persen. Sementara industri yang mengalami penurunan terbesar adalah industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, yaitu turun 17,44 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2019 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat, yaitu naik 42,22 persen. Sementara provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Maluku Utara, yaitu turun 58,50 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2019 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat, yaitu naik 44,58 persen. Sementara provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Jambi, yaitu turun 14,24 persen.

Download PDF