Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Nilai tukar Petani (NTP) Juli 2017 Sebesar 100,65 atau naik 0,12%
2017-08-01
NTP nasional Juli 2017 sebesar 100,65 atau naik 0,12 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,26 persen lebih besar dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,14 persen. Pada Juli 2017, NTP Provinsi Jawa Timur mengalami kenaikan tertinggi (0,89 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami penurunan terbesar (1,40 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Pada Juli 2017 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,15 persen disebabkan oleh naiknya seluruh kelompok penyusun indeks konsumsi rumah tangga. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Juli 2017 sebesar 109,75 atau naik 0,15 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Download PDFTriwulan II-2017 Harga Produsen Mengalami Deflasi 0,33 Persen
2017-08-01
Indeks Harga Produsen (IHP) triwulan II-2017 turun 0,33 persen terhadap triwulan I-2017 (q-to-q) dan naik 3,52 persen terhadap triwulan II-2016 (y-on-y).IHP Sektor Pertanian triwulan II-2017 turun 0,72 persen terhadap triwulan I-2017 (q-to-q) dan naik 2,88 persen terhadap triwulan II-2016 (y-on-y).IHP Sektor Pertambangan dan Penggalian triwulan II-2017 turun 3,02 persen dibandingkan dengan triwulan I-2017 (q-to-q) dan naik 12,83 persen terhadap triwulan II-2016 (y-on-y).IHP Sektor Industri Pengolahan triwulan II-2017 naik 0,17 persen terhadap triwulan I-2017 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan II-2016 (y-on-y) naik 2,54 persen.IHP Sektor Pengadaan Listrik dan Gas triwulan II-2017 naik 0,38 persen dibandingkan dengan triwulan I-2017 (q-to-q), sedangkan terhadap triwulan II-2016 (y-on-y) naik 1,68 persen.IHP Sektor Pengelolaan Air triwulan II-2017 naik 0,04 persen dibandingkan dengan triwulan I-2017 (q-to-q) dan naik 0,54 persen terhadap triwulan II-2016 (y-on-y).IHP Sektor Angkutan Penumpang triwulan II-2017 naik 2,01 persen terhadap triwulan I-2017 (q-to-q), sedangkan terhadap triwulan II-2016 (y-on-y) naik 0,89 persen.IHP Sektor Penyediaan Akomodasi, Makanan dan Minuman triwulan II-2017 naik 0,14 persen terhadap triwulan I-2017 (q-to-q) dan naik 1,11 persen terhadap triwulan II-2016 (y-on-y).
Download PDFKunjungan Wisman Juni 2017 Mencapai 1,13 Juta Kunjungan
2017-08-01
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Juni 2017 naik 31,61 persen dibanding jumlah kunjungan pada Juni 2016, yaitu dari 857,65 ribu kunjungan menjadi 1,13 juta kunjungan. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Mei 2017, jumlah kunjungan wisman pada Juni 2017 mengalami penurunan sebesar 1,86 persen. Selama Semester I (Januari–Juni) 2017, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 6,48 juta kunjungan atau naik 22,42 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 5,29 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Juni 2017 mencapai rata-rata 51,02 persen atau naik 2,39 poin dibandingkan dengan TPK Juni 2016 yang tercatat sebesar 48,63 persen. Sementara itu, jika dibanding TPK Mei 2017, TPK hotel klasifikasi bintang pada Juni 2017 turun 5,05 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang di Indonesia selama Juni 2017 tercatat sebesar 1,92 hari, terjadi kenaikan 0,08 poin jika dibandingkan keadaan Juni 2016.
Download PDFJuli 2017 harga grosir turun 0,23%
2017-08-01
Pada Juli 2017 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen turun sebesar 0,23 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan IHPB tertinggi terjadi pada Kelompok Barang Ekspor Nonmigas sebesar 1,76 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Juli 2017 naik sebesar 0,10 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas tanah urug sebesar 0,50 persen, batu hias dan bangunan 0,50 persen, besi beton 0,44 persen, kaca lembaran 0,29 persen, serta pipa dan assesoriesnya 0,28 persen.IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal pada Juni 2017 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,01 persen, 0,11 persen, dan 0,06 persen terhadap bulan sebelumnya
Download PDFJuli 2017 Inflasi 0,22 Persen
2017-08-01
Pada Juli 2017 terjadi inflasi sebesar 0,22 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 130,00. Dari 82 kota IHK, 59 kota mengalami inflasi dan 23 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Bau-Bau sebesar 2,44 persen dengan IHK sebesar 134,83 dan terendah terjadi di Meulaboh sebesar 0,01 persen dengan IHK 127,99. Sementara itu, deflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 1,50 persen dengan IHK sebesar 133,53 dan terendah terjadi di Metro dan Probolinggo masing-masing sebesar 0,07 persen dengan IHK masing-masing sebesar 136,49 dan 126,10.Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,21 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,57 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,06 persen; kelompok sandang sebesar 0,06 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,15 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,62 persen. Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,08 persen. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Juli) 2017 sebesar 2,60 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2017 terhadap Juli 2016) sebesar 3,88 persen.Komponen inti pada Juli 2017 mengalami inflasi sebesar 0,26 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Juli) 2017 mengalami inflasi sebesar 1,86 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Juli 2017 terhadap Juli 2016) sebesar 3,05 persen.
Download PDFGini Ratio pada Maret 2017 sebesar 0,393
2017-07-17
Pada Maret 2017, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,393. Angka ini menurun sebesar 0,001 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,394. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,397, turun sebesar 0,004 poin. Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2017 sebesar 0,407, turun dibanding Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,409 dan Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,410. Sementara itu, Gini Ratio di daerah perdesaan pada Maret 2017 sebesar 0,320, naik dibanding Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,316 dan turun dibanding Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,327. Pada Maret 2017, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 17,12 persen. Artinya, pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,04 persen yang artinya berada pada kategori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 20,36 persen yang berarti masuk dalam kategori ketimpangan rendah.
Download PDFPersentase Penduduk Miskin Maret 2017 Mencapai 10,64 persen
2017-07-17
Pada bulan Maret 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen), bertambah sebesar 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen). Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2016 sebesar 7,73 persen, turun menjadi 7,72 persen pada Maret 2017. Sementara, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2016 sebesar 13,96 persen, turun menjadi 13,93 persen pada Maret 2017. Selama periode September 2016–Maret 2017, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 188,19 ribu orang (dari 10,49 juta orang pada September 2016 menjadi 10,67 juta orang pada Maret 2017). Sementara, di daerah perdesaan turun sebanyak 181,29 ribu orang (dari 17,28 juta orang pada September 2016 menjadi 17,10 juta orang pada Maret 2017). Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2017 tercatat sebesar 73,31 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi September 2016 yaitu sebesar 73,19 persen. Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, kopi bubuk dan kopi instan (sachet), dan bawang merah. Sementara itu, untuk komoditi bukan makanan yang besar pengaruhnya adalah biaya perumahan, listrik, bensin, pendidikan, angkutan, kesehatan, dan perlengkapan mandi.
Download PDFJuni 2017 Rupiah Terapresiasi 0,21 Persen Terhadap Dolar Amerika
2017-07-17
Rupiah terapresiasi 0,21 persen terhadap dolar Amerika pada Juni 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp13.278,69 per dolar Amerika. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Amerika terjadi pada minggu kedua Juni 2017, yang mencapai Rp13.273,45 per dolar Amerika. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Bali yang mencapai Rp13.101,88 per dolar Amerika pada minggu keempat Juni 2017.Rupiah terdepresiasi 2,06 persen terhadap dolar Australia pada Juni 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp10.112,91 per dolar Australia. Nilai tersebut menjadi level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Australia yang jatuh pada minggu keempat Juni 2017. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah yang mencapai Rp10.306,68 per dolar Australia pada minggu keempat Juni 2017.Rupiah terapresiasi 0,52 persen terhadap yen Jepang pada Juni 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp118,75 per yen Jepang. Nilai tersebut menjadi level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang yang jatuh pada minggu keempat Juni 2017. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mencapai Rp112,50 per yen Jepang pada minggu ketiga Juni 2017.Rupiah terdepresiasi 1,06 persen terhadap euro pada Juni 2017 dengan nilai tukar tukar sebesar Rp14.996,62 per euro. Nilai tersebut menjadi level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap euro yang jatuh pada minggu keempat Juni 2017. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara yang mencapai Rp15.216,45 per euro pada minggu keempat Juni 2017.
Download PDFUpah nominal harian buruh tani nasional Juni 2017 naik sebesar 0,26%
2017-07-17
Upah nominal harian buruh tani nasional pada Juni 2017 naik sebesar 0,26 persen dibanding upah buruh tani Mei 2017, yaitu dari Rp49.782,00 menjadi Rp49.912,00 per hari. Upah riil mengalami kenaikan sebesar 0,04 persen.Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juni 2017 naik 0,02 persen dibanding upah Mei 2017, yaitu dari Rp83.958,00 menjadi Rp83.975,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,67 persen
Download PDFEkspor Indonesia Juni 2017 mencapai US$11,64 miliar dan Impor Indonesia Juni 2017 mencapai US$10,01 miliar
2017-07-17
EKSPORNilai ekspor Indonesia Juni 2017 mencapai US$11,64 miliar atau menurun 18,82 persen dibanding ekspor Mei 2017. Demikian juga dibanding Juni 2016 menurun 11,82 persen.Ekspor nonmigas Juni 2017 mencapai US$10,35 miliar, turun 20,66 persen dibanding Mei 2017, demikian juga dibanding ekspor Juni 2016 turun 13,85 persen.Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Juni 2017 mencapai US$79,96 miliar atau meningkat 14,03 persen dibanding periode yang sama tahun 2016, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$72,36 miliar atau meningkat 13,73 persen.Penurunan terbesar ekspor nonmigas Juni 2017 terhadap Mei 2017 terjadi pada lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$308,2 juta (16,48 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bubur kayu/pulp sebesar US$32,6 juta (20,05 persen).Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Juni 2017 naik 10,05 persen dibanding periode yang sama tahun 2016, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 23,44 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 37,23 persen.Ekspor nonmigas Juni 2017 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$1,35 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,19 miliar dan Jepang US$1,01 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,35 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,19 miliar.Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari-Juni 2017 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$13,63 miliar (17,05 persen), diikuti Jawa Timur US$8,82 miliar (11,02 persen) dan Kalimantan Timur US$8,44 miliar (10,55 persen). IMPORNilai impor Indonesia Juni 2017 mencapai US$10,01 miliar atau turun 27,26 persen dibanding Mei 2017, demikian pula apabila dibandingkan Juni 2016 turun 17,21 persen. Impor nonmigas Juni 2017 mencapai US$8,40 miliar atau turun 29,88 persen dibanding Mei 2017, demikian juga bila dibanding Juni 2016 turun 18,65 persen. Impor migas Juni 2017 mencapai US$1,61 miliar atau turun 9,79 persen dibanding Mei 2017 dan turun 8,80 persen jika dibanding Juni 2016.Peningkatan impor nonmigas terbesar Juni 2017 dibanding Mei 2017 adalah golongan kapal laut dan bangunan terapung US$171,1 juta (295,51 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan peralatan listrik US$559,1 juta (35,15 persen). Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Juni 2017 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$15,76 miliar (25,96 persen), Jepang US$6,77 miliar (11,15 persen), dan Thailand US$4,42 miliar (7,28 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 20,75 persen, sementara dari Uni Eropa 9,23 persen. Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Juni 2017 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 9,50 persen, 11,26 persen, dan 2,06 persen.
Download PDF