Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Kunjungan Wisman Juli 2017 Mencapai 1,35 Juta Kunjungan
2017-09-04
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Juli 2017 naik 30,85 persen dibanding jumlah kunjungan pada Juli 2016, yaitu dari 1,03 juta kunjungan menjadi 1,35 juta kunjungan. Begitu pula, jika dibandingkan dengan Juni 2017, jumlah kunjungan wisman pada Juli 2017 mengalami kenaikan sebesar 21,57 persen. Secara kumulatif (Januari–Juli) 2017, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 7,81 juta kunjungan atau naik 23,53 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 6,32 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Juli 2017 mencapai rata-rata 57,52 persen atau naik 3,75 poin dibandingkan dengan TPK Juli 2016 yang tercatat sebesar 53,77 persen. Demikian juga, jika dibanding TPK Juni 2017, TPK hotel klasifikasi bintang pada Juli 2017 naik 6,50 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama Juli 2017 tercatat sebesar 1,89 hari, terjadi kenaikan 0,08 poin jika dibandingkan keadaan Juli 2016.
Download PDFAgustus 2017 harga grosir naik 0,05%
2017-09-04
Pada Agustus 2017, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,05 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Kelompok Barang Ekspor Nonmigas sebesar 0,25 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Agustus 2017 naik sebesar 0,26 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas besi beton sebesar 2,88 persen, besi lainnya 0,97 persen, kawat dan sejenisnya 0,89 persen, batu bata 0,87 persen, serta paku, mur, baut 0,83 persen.IHPB Bahan Baku dan Barang Modal pada Juli 2017 masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,11 persen dan 0,23 persen terhadap bulan sebelumnya, sementara itu Barang Konsumsi mengalami kenaikan sebesar 0,40 persen.
Download PDFAgustus 2017 Deflasi 0,07 Persen
2017-09-04
Pada Agustus 2017 terjadi deflasi sebesar 0,07 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 129,91. Dari 82 kota IHK, 47 kota mengalami deflasi dan 35 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Ambon sebesar 2,08 persen dengan IHK sebesar 128,03 dan terendah terjadi di Samarinda sebesar 0,03 persen dengan IHK 133,21. Sementara inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe sebesar 1,09 persen dengan IHK sebesar 125,68 dan terendah terjadi di Batam sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 129,50. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,67 persen dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,60 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks adalah: kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,26 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,10 persen; kelompok sandang sebesar 0,32 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,20 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,89 persen. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Agustus) 2017 sebesar 2,53 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2017 terhadap Agustus 2016) sebesar 3,82 persen. Komponen inti pada Agustus 2017 mengalami inflasi sebesar 0,28 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Agustus) 2017 mengalami inflasi sebesar 2,15 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Agustus 2017 terhadap Agustus 2016) sebesar 2,98 persen.
Download PDFJuli 2017 Rupiah Terdepresiasi 0,28% terhadap Dollar Amerika
2017-08-15
Rupiah terdepresiasi 0,28 persen terhadap dolar Amerika pada Juli 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp13.315,90 per dolar Amerika. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Amerika terjadi pada minggu kedua Juli 2017 yang mencapai Rp13.349,17 per dolar Amerika. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Jawa Timur yang mencapai Rp13.635,36 per dolar Amerika pada minggu keempat Juli 2017. Rupiah terdepresiasi 4,03 persen terhadap dolar Australia pada Juli 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp10.520,13 per dolar Australia. Nilai tersebut menjadi level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Australia yang jatuh pada minggu keempat Juli 2017. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Utara yang mencapai Rp10.634,00 per dolar Australia pada minggu ketiga Juli 2017. Rupiah terapresiasi 0,03 persen terhadap yen Jepang pada Juli 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp118,72 per yen Jepang. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang terjadi pada minggu kedua Juli 2017 yang mencapai Rp117,23 per yen Jepang. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mencapai Rp110,50 per yen Jepang pada minggu kedua Juli 2017. Rupiah terdepresiasi 3,15 persen terhadap euro pada Juli 2017 dengan nilai tukar tukar sebesar Rp15.468,85 per euro. Nilai tersebut menjadi level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap euro yang jatuh pada minggu keempat Juli 2017. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Utara yang mencapai Rp15.625,00 per euro pada minggu keempat Juli 2017.
Download PDFUpah nominal harian buruh tani nasional Juli 2017 naik sebesar 0,18%
2017-08-15
Upah nominal harian buruh tani nasional pada Juli 2017 naik sebesar 0,18 persen dibanding upah buruh tani Juni 2017, yaitu dari Rp49.912,00 menjadi Rp50.003,00 per hari. Upah riil mengalami kenaikan sebesar 0,03 persenUpah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juli 2017 naik 0,12 persen dibanding upah Juni 2017, yaitu dari Rp83.975,00 menjadi Rp84.076,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,10 persen1
Download PDFEkspor Juli 2017 Mencapai US$13,62 Miliar Dan Impor Juli 2017 Sebesar US$13,89 Miliar
2017-08-15
EksporNilai ekspor Indonesia Juli 2017 mencapai US$13,62 miliar atau meningkat 16,83 persen dibanding ekspor Juni 2017. Demikian juga dibanding Juli 2016 meningkat 41,12 persen.Ekspor nonmigas Juli 2017 mencapai US$12,44 miliar, naik 19,85 persen dibanding Juni 2017, demikian juga dibanding ekspor Juli 2016 naik 43,83 persen.Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari?Juli 2017 mencapai US$93,59 miliar atau meningkat 17,32 persen dibanding periode yang sama tahun 2016, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$84,83 miliar atau meningkat 17,37 persen.Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Juli 2017 terhadap Juni 2017 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$241,6 juta (17,17 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada aluminium sebesar US$12,5 juta (24,66 persen).Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari?Juli 2017 naik 13,82 persen dibanding periode yang sama tahun 2016, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 29,61 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 39,09 persen.Ekspor nonmigas Juli 2017 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$1,60 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,39 miliar dan Jepang US$1,34 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,88 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,39 miliar.Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari?Juli 2017 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$16,22 miliar (17,34 persen), diikuti Jawa Timur US$10,29 miliar (10,99 persen) dan Kalimantan Timur US$9,77 miliar (10,44 persen). ImporNilai impor Indonesia Juli 2017 mencapai US$13,89 miliar atau naik 39,00 persen dibanding Juni 2017, demikian pula apabila dibandingkan Juli 2016 naik 54,02 persen. Impor nonmigas Juli 2017 mencapai US$12,11 miliar atau naik 44,31 persen dibanding Juni 2017, demikian juga bila dibanding Juli 2016 naik 61,23 persen. Impor migas Juli 2017 mencapai US$1,78 miliar atau naik 11,12 persen dibanding Juni 2017 dan juga meningkat 18,07 persen jika dibanding Juli 2016.Peningkatan impor nonmigas terbesar Juli 2017 dibanding Juni 2017 adalah golongan mesin dan peralatan mekanik US$618,1 juta (47,44 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal laut dan bangunan terapung US$139,7 juta (61,08 persen). Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Juli 2017 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$18,82 miliar (25,84 persen), Jepang US$8,31 miliar (11,41 persen), dan Thailand US$5,33 miliar (7,32 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 20,60 persen, sementara dari Uni Eropa 9,32 persen. Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Juli 2017 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 13,54 persen, 16,31 persen, dan 9,27 persen.
Download PDFIndeks Kebahagiaan Indonesia Tahun 2017 Sebesar 70,69 pada Skala 0-100
2017-08-15
Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2017 berdasarkan hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) sebesar 70,69 pada skala 0–100.Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2017 merupakan indeks komposit yang disusun oleh tiga dimensi, yaitu Kepuasan Hidup (Life Satisfaction), Perasaan (Affect), dan Makna Hidup (Eudaimonia). Kontribusi masing-masing dimensi terhadap Indeks Kebahagiaan Indonesia adalah Kepuasan Hidup 34,80 persen, Perasaan (Affect) 31,18 persen, dan Makna Hidup (Eudaimonia) 34,02 persen.Nilai indeks masing-masing dimensi Indeks Kebahagiaan adalah sebagai berikut: (1) Indeks Dimensi Kepuasan Hidup sebesar 71,07; (2) Indeks Dimensi Perasaan (Affect) sebesar 68,59; dan (3) Indeks Dimensi Makna Hidup (Eudaimonia) sebesar 72,23. Seluruh indeks dimensi diukur pada skala 0–100.
Download PDFKondisi Bisnis dan Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan II-2017 Meningkat
2017-08-07
A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. STB dilakukan setiap triwulan di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan II-2017 sebesar 2.299 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan triwulan mendatang. B. Kondisi Bisnis Triwulan II-2017 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan II-2017 sebesar 111,63. Hal ini menunjukkan kondisi bisnis meningkat jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme pelaku bisnis juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan I-2017 (nilai ITB sebesar 103,42). Pada triwulan II-2017 tercatat seluruh kategori lapangan usaha mengalami peningkatan kondisi bisnis kecuali kategori lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian yang mengalami penurunan. Peningkatan kondisi bisnis tertinggi terjadi pada kategori lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dengan nilai ITB sebesar 130,39. Sementara itu, penurunan kondisi bisnis hanya terjadi pada lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian dengan nilai ITB sebesar 96,91. Kondisi bisnis pada triwulan II-2017 yang meningkat disebabkan oleh peningkatan tiga komponen pembentuknya, yaitu pendapatan usaha dengan nilai indeks sebesar 118,93, penggunaan kapasitas produksi/usaha dengan nilai indeks sebesar 114,55, dan rata-rata jumlah jam kerja dengan nilai indeks sebesar 101,40. C. Prospek Bisnis Triwulan III-2017 Nilai ITB pada triwulan III-2017 diperkirakan sebesar 108,82. Dengan demikian, secara umum kondisi bisnis pada triwulan III-2017 diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, tingkat optimisme pelaku bisnis diperkirakan sedikit menurun jika dibandingkan dengan triwulan II-2017. Pada triwulan III-2017 kondisi bisnis seluruh kategori lapangan usaha diperkirakan mengalami peningkatan. Peningkatan kondisi bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada kategori lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dengan perkiraan nilai ITB sebesar 130,88. Sementara itu, peningkatan kondisi bisnis terendah diperkirakan terjadi pada kategori lapangan usaha Jasa Perusahaan dengan perkiraan nilai ITB sebesar 101,03.
Download PDFPertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2017
2017-08-07
Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2017 mencapai Rp3 366,8 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2 472,8 triliun.Ekonomi Indonesia triwulan II-2017 terhadap triwulan II-2016 tumbuh 5,01 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi yang tumbuh 10,88 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yang tumbuh sebesar 8,49 persen.Ekonomi Indonesia triwulan II-2017 terhadap triwulan sebelumnya meningkat sebesar 4,00 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 8,44 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yang meningkat signifikan sebesar 29,37 persen.Ekonomi Indonesia semester I-2017 (c-to-c) tumbuh 5,01 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha kecuali Pengadaan Listrik dan Gas yang mengalami penurunan sebesar 0,50 persen. Sementara dari sisi pengeluaran terutama didorong oleh Komponen PK-LNPRT yang tumbuh sebesar 8,27 persen.Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan II-2017 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia, yakni sebesar 58,65 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,69 persen, dan Pulau Kalimantan sebesar 8,15 persen. Sementara pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Pulau Sulawesi.
Download PDFPertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang Naik 4,00 Persen Dan Industri Manufaktur Mikro dan Kecil Naik 2,50 Persen Pada Triwulan II Tahun 2017 Dari Triwulan II Tahun 2016
2017-08-01
Industri Manufaktur Besar dan SedangPertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II tahun 2017 naik sebesar 4,00 persen (y-on-y) terhadap triwulan II tahun 2016. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh naiknya produksi industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, naik 10,86 persen; industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, naik 9,21 persen; dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, naik 8,98 persen. Sementara itu, jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri pengolahan lainnya, turun 10,53 persen, industri minuman, turun 8,26 persen; dan jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan, turun 7,57 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II tahun 2017 naik sebesar 2,57 persen (q-to-q) terhadap triwulan I tahun 2017. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan produksi adalah industri makanan, naik 8,59 persen, industri mesin dan perlengkapan ytdl, naik 7,97 persen; dan industri logam dasar, naik 6,86 persen. Sementara itu, jenis-jenis industri yang mengalami penurunan terbesar adalah industri karet, barang dari karet dan plastik, turun 8,75 persen; industri pengolahan lainnya, turun 7,77 persen; dan industri kertas dan barang dari kertas, turun 6,79 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II tahun 2017 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, naik 20,58 persen; Provinsi Jambi, naik 14,44 persen; dan Provinsi D.K.I Jakarta, naik 11,29 persen. Sebaliknya, provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Aceh, turun 10,52 persen; Provinsi Bengkulu, turun 10,04 persen; dan Provinsi Kepulauan Riau, turun 8,04 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II tahun 2017 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Lampung, naik 12,51 persen; Provinsi Bengkulu dan Kepulauan Bangka Belitung, masing-masing naik 4,90 persen. Sementara itu, provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Bali, turun 3,98 persen; Provinsi Maluku, turun 1,62 persen; dan Provinsi Jambi, turun 1,30 persen.Industri Manufaktur Mikro dan KecilPertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II tahun 2017 naik sebesar 2,50 persen (y-on-y) terhadap triwulan II tahun 2016. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh naiknya produksi industri komputer, barang elektronika dan optik sebesar 35,43 persen, industri kertas dan barang dari kertas sebesar 23,37 persen, serta industri mesin dan perlengkapan yang tidak termasuk dalam lainnya (ytdl) sebesar 22,26 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri pengolahan tembakau turun 14,32 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan turun 7,96 persen, serta industri peralatan listrik turun 7,21 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II tahun 2017 naik sebesar 1,64 persen (q-to-q) terhadap triwulan I tahun 2017. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan produksi adalah industri kertas dan barang dari kertas naik 15,87 persen, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia naik 9,72 persen, serta industri pakaian jadi naik sebesar 8,82 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan terbesar adalah industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer turun 5,33 persen; industri kayu, barang dari kayu dan gabus (kecuali furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan, dan sejenisnya turun 5,13 persen; serta industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya turun 3,67 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II tahun 2017 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara naik 34,51 persen; Provinsi Nusa Tenggara Timur naik 29,89 persen; dan Provinsi Papua naik 25,68 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan terbesar adalah Provinsi Kalimantan Timur turun 12,89 persen; Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 12,72 persen; dan Provinsi Sulawesi Selatan turun 11,23 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II tahun 2017 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Aceh naik 20,87 persen; Provinsi Papua naik 13,13 persen; dan Provinsi Riau naik 11,05 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan terbesar adalah Provinsi Sulawesi Selatan turun 11,94 persen; Provinsi Sulawesi Barat turun 10,09 persen; dan Provinsi Kalimantan Timur turun 9,13 persen.
Download PDF