Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Indeks Harga Produsen (IHP) Triwulan IV-2018 Naik 0,41 Persen Terhadap Triwulan III-2018
2019-02-01
Indeks Harga Produsen (IHP) triwulan IV-2018 naik 0,41 persen terhadap triwulan III-2018 (q-to-q) dan naik 2,99 persen terhadap triwulan IV-2017 (y-on-y).IHP Sektor Pertanian triwulan IV-2018 naik 1,39 persen terhadap triwulan III-2018 (q-to-q) dan naik 2,60 persen terhadap triwulan IV-2017(y-on-y).IHP Sektor Pertambangan dan Penggalian triwulan IV-2018 turun 3,18 persen dibandingkan triwulan III-2018 (q-to-q) dan naik 6,03 persen terhadap triwulan IV-2017 (y-on-y).IHP Sektor Industri Pengolahan triwulan IV-2018 naik 0,70 persen terhadap triwulan III-2018 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan IV-2017 (y-on-y) naik 2,66 persen.IHP Sektor Pengadaan Listrik dan Gas triwulan IV-2018 naik 0,30 persen dibandingkan dengan triwulan III-2018 (q-to-q) dan terhadap triwulan IV-2017 (y-on-y) naik 0,57 persen.IHP Sektor Pengelolaan Air triwulan IV-2018 naik 0,04 persen dibandingkan dengan triwulan III-2018 (q-to-q) dan naik 0,38 persen terhadap triwulan IV-2017 (y-on-y).IHP Sektor Angkutan Penumpang triwulan IV-2018 naik 2,04 persen terhadap triwulan III-2018 (q-to-q) sedangkan terhadap triwulan IV-2017 (y-on-y) naik 3,87 persen.IHP Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makanan Minuman triwulan IV-2018 naik 0,18 persen terhadap triwulan III-2018 (q-to-q) dan naik 1,05 persen terhadap triwulan IV-2017 (y-on-y).
Download PDFJanuari 2019 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas naik 0,09 persen
2019-02-01
Pada Januari 2019, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,09 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 0,84 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Januari 2019 antara lain tomat, bawang merah, kelapa sawit, minyak kelapa sawit (CPO), beras, serta besi dan baja impor. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Januari 2019 naik sebesar 0,22 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh kenaikan harga komoditas tanah uruk, batu hias dan batu bangunan, bak dan tangki, aspal, dan bahan bangunan siap pasang dari kayu. IHPB Umum turun 1,07 persen pada Desember 2018 terhadap bulan sebelumnya. Kelompok Barang Ekspor merupakan penyumbang andil dominan pada penurunan IHPB, yaitu sebesar negatif 0,88 persen. IHPB Kelompok Barang Impor dan Kelompok Barang Ekspor pada Desember 2018 masing-masing turun sebesar 2,30 persen dan 4,26 persen terhadap bulan sebelumnya.
Download PDFNilai Tukar Petani (NTP) Januari 2019 sebesar 103,33 atau naik 0,16 persen. Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani naik 2,22 persen dan Harga Beras Medium di Penggilingan naik 1,06 persen
2019-02-01
Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.NTP nasional Januari 2019 sebesar 103,33 atau naik 0,16 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,57 persen, lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,41 persen.Pada Januari 2019, NTP Provinsi Riau mengalami kenaikan tertinggi (2,59 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Papua mengalami penurunan terbesar (1,58 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.Pada Januari 2019 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,26 persen, disebabkan oleh kenaikan indeks di seluruh kelompok penyusun Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT).Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Januari 2019 sebesar 112,00 atau turun 0,18 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.Dari 1.224 transaksi penjualan gabah di 28 provinsi selama Januari 2019, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 68,13 persen, gabah kering giling (GKG) 16,67 persen, dan gabah kualitas rendah 15,20 persen.Selama Januari 2019, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp5.353,00 per kg atau naik 2,22 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.453,00 per kg atau naik 2,31 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada Desember 2018. Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp5.780,00 per kg atau naik 1,16 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.903,00 per kg atau naik 1,45 persen. Harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp4.693,00 per kg atau turun 2,99 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.800,00 per kg atau turun 2,98 persen.Dibandingkan Januari 2018, rata-rata harga pada Januari 2019 di tingkat petani untuk semua kualitas yaitu GKP, GKG, dan gabah kualitas rendah mengalami penurunan masing-masing 1,14 persen, 3,70 persen, dan 4,65 persen. Demikian juga di tingkat penggilingan, rata-rata harga pada Januari 2019 untuk semua kualitas yaitu GKP, GKG, dan gabah kualitas rendah juga mengalami penurunan masing-masing 1,00 persen, 3,21 persen, dan 4,21 persen. Pada Januari 2019, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp10.111,00 per kg, naik sebesar 2,98 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp9.903,00 per kg, naik sebesar 1,06 persen. Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp9.536,00 per kg, naik sebesar 1,10 persen. Dibandingkan dengan Januari 2018, rata-rata harga beras di penggilingan pada Januari 2019 untuk semua kualitas yaitu premium, medium, dan rendah mengalami penurunan masing-masing 2,31 persen, 2,69 persen, dan 2,62 persen.
Download PDFJumlah kunjungan wisman ke Indonesia Desember 2018 mencapai 1,41 juta kunjungan
2019-02-01
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Desember 2018 naik 22,54 persen dibanding jumlah kunjungan pada Desember 2017, yaitu dari 1,15 juta kunjungan menjadi 1,41 juta kunjungan. Begitu pula, jika dibandingkan dengan November 2018, jumlah kunjungan wisman pada Desember 2018 mengalami kenaikan sebesar 21,43 persen. Selama tahun 2018, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 15,81 juta kunjungan atau naik 12,58 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2017 yang berjumlah 14,04 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Desember 2018 mencapai rata-rata 59,75 persen atau naik 0,22 poin dibandingkan dengan TPK Desember 2017 yang tercatat sebesar 59,53 persen. Sementara itu, jika dibanding TPK November 2018, TPK hotel klasifikasi bintang pada Desember 2018 mengalami penurunan sebesar 0,44 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama Desember 2018 tercatat sebesar 1,75 hari, terjadi kenaikan 0,03 poin jika dibandingkan keadaan Desember 2017.
Download PDFJanuari 2019 inflasi sebesar 0,32 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 1,23 persen.
2019-02-01
Pada Januari 2019 terjadi inflasi sebesar 0,32 persen denganIndeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 135,83. Dari 82 kota IHK, 73 kota mengalami inflasi dan 9 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 1,23 persen dengan IHK sebesar 145,12 dan terendah terjadi di Pematangsiantar sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 139,10. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 0,87 persen dengan IHK sebesar 154,44 dan terendah terjadi di Merauke sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 141,00.Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,92 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,27 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,28 persen; kelompok sandang sebesar 0,47 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,27 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,24 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,16 persen.Tingkat inflasi tahun kalender Januari 2019 sebesar 0,32 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Januari 2019 terhadap Januari 2018) sebesar 2,82 persen.Komponen inti pada Januari 2019 mengalami inflasi sebesar 0,30 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender Januari 2019 sebesar 0,30 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Januari 2019 terhadap Januari 2018) sebesar 3,06 persen.
Download PDFUpah Nominal Harian Buruh Tani Nasional Desember 2018 Naik Sebesar 0,19 Persen
2019-01-15
Upah nominal buruh/pekerja adalah rata-rata upah harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan.Upah riil buruh/pekerja menggambarkan daya beli dari pendapatan/upah yang diterima buruh/pekerja.Upah riil adalah perbandingan antara upah nominal dengan indeks konsumsi rumah tangga.Upah nominal harian buruh tani nasional pada Desember 2018 naik sebesar 0,19 persen dibanding upah buruh tani November 2018, yaitu dari Rp52.955,00 menjadi Rp53.056,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,38 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Desember 2018 naik 0,10 persen dibanding upah November 2018, yaitu dari Rp87.298,00 menjadi Rp87.385,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,51 persen.
Download PDFEkspor Desember 2018 Mencapai US$14,18 Miliar. Impor Desember 2018 sebesar US$15,28 Miliar, turun 9,60 persen dibanding November 2018
2019-01-15
- EksporNilai ekspor Indonesia Desember 2018 mencapai US$14,18 miliar atau menurun 4,89 persen dibanding ekspor November 2018. Demikian juga dibanding Desember 2017 menurun 4,62 persen.Ekspor nonmigas Desember 2018 mencapai US$12,43 miliar, turun 8,15 persen dibanding November 2018. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Desember 2017, turun 7,01 persen.Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Desember 2018 mencapai US$180,06 miliar atau meningkat 6,65 persen dibanding periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$162,65 miliar atau meningkat 6,25 persen.Penurunan terbesar ekspor nonmigas Desember 2018 terhadap November 2018 terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$278,7 juta (56,25 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$84,9 juta (27,41 persen).Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Desember 2018 naik 3,86 persen dibanding periode yang sama tahun 2017, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya naik 20,47 persen, sementara ekspor hasil pertanian turun 6,40 persen.Ekspor nonmigas Desember 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$1,67 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,48 miliar dan Jepang US$1,16 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,70 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,33 miliar.Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Desember 2018 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$30,37 miliar (16,87 persen), diikut Jawa Timur US$19,07 miliar (10,59 persen) dan Kalimantan Timur US$18,56 miliar (10,31 persen).- ImporNilai impor Indonesia Desember 2018 mencapai US$15,28 miliar atau turun 9,60 persen dibanding November 2018, namun naik 1,16 persen jika dibandingkan Desember 2017.Impor nonmigas Desember 2018 mencapai US$13,31 miliar atau turun 5,14 persen dibanding November 2018, sebaliknya meningkat 6,16 persen jika dibanding Desember 2017.Impor migas Desember 2018 mencapai US$1,97 miliar atau turun 31,45 persen dibanding November 2018, demikian juga apabila dibandingkan Desember 2017 turun 23,33 persen.Penurunan impor nonmigas terbesar Desember 2018 dibanding November 2018 adalah golongan bahan kimia organik sebesar US$174,4 juta (27,07 persen), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan buah-buahan sebesar US$69,8 juta (68,90 persen).Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Desember 2018 ditempat oleh Tiongkok dengan nilai US$45,24 miliar (28,49 persen), Jepang US$17,94 miliar (11,30 persen), dan Thailand US$10,85 miliar (6,83 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 19,85 persen, sementara dari Uni Eropa 8,86 persen.Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–Desember 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 22,03 persen, 20,06 persen, dan 19,54 persen
Download PDFPersentase Penduduk Miskin Pada September 2018 Sebesar 9,66 Persen
2019-01-15
Persentase penduduk miskin pada September 2018 sebesar 9,66 persen menurun 0,16 persen poin terhadap Maret 2018 dan menurun 0,46 persen poin terhadap September 2017.Jumlah penduduk miskin pada September 2018 sebesar 25,67 juta orang menurun 0,28 juta orang terhadap Maret 2018 dan menurun 0,91 juta orang terhadap September 2017.Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2018 sebesar 7,02 persen, turun menjadi 6,89 persen pada September 2018. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2018 sebesar 13,20 persen, turun menjadi 13,10 persen pada September 2018.Dibanding Maret 2018 jumlah penduduk miskin September 2018 di daerah perkotaan turun sebanyak 13,1 ribu orang (dari 10,14 juta orang pada Maret 2018 menjadi 10,13 juta orang pada September 2018). Sementara itu daerah perdesaan turun sebanyak 262,1 ribu orang (dari 15,81 juta orang pada Maret 2018 menjadi 15,54 juta orang pada September 2018).Garis Kemiskinan pada September 2018 tercatat sebesar Rp 410.670,- /kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp 302.022,- (73,54 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp 108.648,- (26,46 persen).Pada September 2018 secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,63 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp 1.901.402,-/rumah tangga miskin/bulan.
Download PDFGini Ratio September 2018 tercatat sebesar 0,384
2019-01-15
Pada September 2018, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,384. Angka ini menurun sebesar 0,005 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,389. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2017 yang sebesar 0,391 turun sebesar 0,007 poin. Gini Ratio September 2018 tercatat sebesar 0,384 Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2018 tercatat sebesar 0,391, turun dibanding Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,401 dan Gini Ratio September 2017 yang sebesar 0,404. Gini Ratio di daerah perdesaan pada September 2018 tercatat sebesar 0,319, turun dibanding Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,324 dan Gini Ratio September 2017 yang sebesar 0,320. Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 17,47 persen. Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada September 2018 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,79 persen yang berarti tergolong pada kategori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 20,43 persen, yang berarti tergolong dalam kategori ketimpangan rendah.
Download PDFDesember 2018 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas naik 0,05 persen
2019-01-02
Pada Desember 2018, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,05 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 0,53 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Desember 2018 antara lain bawang merah, tomat, ayam ras, daging ayam, beras, dan mesin-mesin pesawat mekanik impor. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Desember 2018 naik sebesar 0,31 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh kenaikan harga komoditas besi lainnya, paku, mur, baut, aspal, batako, serta batu hias dan batu bangunan. IHPB Umum turun 1,00 persen pada November 2018 terhadap bulan sebelumnya. Kelompok Barang Ekspor merupakan penyumbang andil dominan pada penurunan IHPB, yaitu sebesar negatif 1,25 persen. IHPB Kelompok Barang Impor pada November 2018 naik 1,05 persen dan Kelompok Barang Ekspor turun 5,76 persen terhadap bulan sebelumnya.
Download PDF