Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Nilai Tukar Petani (NTP) Oktober 2018 sebesar 103,02 atau turun 0,14 persen, Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani naik 0,98 persen dan Harga Beras Medium di Penggilingan naik 0,92 persen

Nilai Tukar Petani (NTP) Oktober 2018 sebesar 103,02 atau turun 0,14 persen, Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani naik 0,98 persen dan Harga Beras Medium di Penggilingan naik 0,92 persen

2018-11-01

- NTPNilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tngkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tnggi NTP, secara relatf semakin kuat pula tngkat kemampuan/daya beli petani.NTP nasional Oktober 2018 sebesar 103,02 atau turun 0,14 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,20 persen, namun kenaikan tersebut masih lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,34 persen.Pada Oktober 2018, NTP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami kenaikan tertnggi (1,56 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Riau mengalami penurunan terbesar (1,46 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.Pada Oktober 2018 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,35 persen, disebabkan oleh kenaikan indeks pada seluruh kelompok penyusun Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT).Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Oktober 2018 sebesar 111,91 atau turun 0,13 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.- GabahDari 1.773 transaksi penjualan gabah di 28 provinsi selama Oktober 2018, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 75,41 persen, gabah kering giling (GKG) 12,35 persen, dan gabah kualitas rendah 12,24 persen.Selama Oktober 2018, rata-rata harga GKP di tngkat petani Rp4.937,00 per kg atau naik 0,98 persen dan di tngkat penggilingan Rp5.039,00 per kg atau naik 0,98 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada September 2018. Rata-rata harga GKG di petani Rp5.467,00 per kg atau naik 1,26 persen dan di tngkat penggilingan Rp5.568,00 per kg atau naik 1,22 persen. Harga gabah kualitas rendah di tngkat petani Rp4.694,00 per kg atau naik 0,92 persen dan di tngkat penggilingan Rp4.782,00 per kg atau naik 0,61 persen.Dibandingkan Oktober 2017, rata-rata harga pada Oktober 2018 di tngkat petani untuk kualitas GKP dan gabah kualitas rendah mengalami kenaikan masing-masing 3,05 persen dan 7,41 persen, sedangkan GKG mengalami penurunan sebesar 1,17 persen. Demikian juga di tngkat penggilingan, rata-rata harga pada Oktober 2018 untuk kualitas GKP dan gabah kualitas rendah juga mengalami kenaikan masing-masing 3,13 persen dan 7,03 persen, sedangkan GKG turun sebesar 0,94 persen.Pada Oktober 2018, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.645,00 per kg, naik sebesar 0,77 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp9.395,00 per kg, naik sebesar 0,92 persen. Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp9.194,00 per kg, naik sebesar 0,75 persen.Dibandingkan dengan Oktober 2017, rata-rata harga beras di penggilingan pada Oktober 2018 pada semua kualitas mengalami kenaikan, untuk kualitas premium sebesar 1,49 persen, kualitas medium sebesar 3,05 persen, dan kualitas rendah sebesar 4,08 persen.

Download PDF
October 2018 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas naik 0,32 persen

October 2018 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas naik 0,32 persen

2018-11-01

Pada Oktober 2018, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,32 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Kelompok Barang Ekspor Nonmigas sebesar 0,55 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Oktober 2018 antara lain cabai rawit, cabai merah, solar, benda-benda dari besi dan baja impor, serta lemak dan minyak hewan/nabati ekspor. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Oktober 2018 naik sebesar 0,61 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh kenaikan harga komoditas besi beton, aspal, kawat dan sejenisnya, paku, mur, baut, serta tripleks, plywood, dan sejenisnya. IHPB Umum naik 0,56 persen pada September 2018 terhadap bulan sebelumnya. Kelompok Barang Ekspor merupakan penyumbang andil dominan pada kenaikan IHPB, yaitu sebesar 0,54 persen. IHPB Kelompok Barang Impor dan Kelompok Barang Ekspor pada September 2018 masing-masing naik sebesar 0,71 persen dan 2,55 persen terhadap bulan sebelumnya.

Download PDF
Oktober 2018 inflasi sebesar 0,28 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Palu sebesar 2,27 persen.

Oktober 2018 inflasi sebesar 0,28 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Palu sebesar 2,27 persen.

2018-11-01

Pada Oktober 2018 terjadi inflasi sebesar 0,28 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 134,20. Dari 82 kota IHK, 66 kota mengalami inflasi dan 16 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Palu sebesar 2,27 persen dengan IHK sebesar 138,46 dan terendah terjadi di Cilegon sebesar 0,01 persen dengan IHK 140,32. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Bengkulu sebesar 0,74 persen dengan IHK sebesar 141,73 dan terendah terjadi di Tangerang sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 141,63.Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,15 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,27 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,42 persen; kelompok sandang sebesar 0,54 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,06 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,09 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,26 persen.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Oktober) 2018 sebesar 2,22 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Oktober 2018 terhadap Oktober 2017) sebesar 3,16 persen.Komponen inti pada Oktober 2018 mengalami inflasi sebesar 0,29 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Oktober) 2018 sebesar 2,67 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Oktober 2018 terhadap Oktober 2017) sebesar 2,94 persen.

Download PDF
Dengan memperhitungkan potensi sampai Desember, maka Luas panen padi di Indonesia periode Januari–Desember 2018 sebesar 10,90 juta hektar dan produksi padi sebesar 56,54 juta ton GKG

Dengan memperhitungkan potensi sampai Desember, maka Luas panen padi di Indonesia periode Januari–Desember 2018 sebesar 10,90 juta hektar dan produksi padi sebesar 56,54 juta ton GKG

2018-10-24

Luas panen padi di Indonesia periode Januari–September 2018 sebesar 9,54 juta hektar. Dengan memperhitungkan potensi sampai Desember 2018, maka luas panen tahun 2018 adalah 10,90 juta hektar. Produksi padi di Indonesia periode Januari–September 2018 sebesar 49,65 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Berdasarkan potensi produksi sampai Desember 2018, maka diperkirakan total produksi padi tahun 2018 sebesar 56,54 juta ton GKG. Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras dengan menggunakan angka konversi GKG ke beras tahun 2018, makproduksi padi tersebut setara dengan 32,42 juta ton beras.

Download PDF
Upah Nominal Harian Buruh Tani Nasional September 2018 Naik Sebesar 0,30 Persen.

Upah Nominal Harian Buruh Tani Nasional September 2018 Naik Sebesar 0,30 Persen.

2018-10-15

Upah nominal buruh/pekerja adalah rata-rata upah harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan.Upah riil buruh/pekerja menggambarkan daya beli dari pendapatan/upah yang diterima buruh/pekerja.Upah riil adalah perbandingan antara upah nominal dengan indeks konsumsi rumah tangga.Upah nominal harian buruh tani nasional pada September 2018 naik sebesar 0,30 persen dibanding upah buruh tani Agustus 2018, yaitu dari Rp52.505,00 menjadi Rp52.665,00 per hari. Upah riil juga turut mengalami kenaikan sebesar 0,90 persen.Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada September 2018 naik 0,29 persen dibanding upah Agustus 2018, yaitu dari Rp86.397,00 menjadi Rp86.648,00 per hari. Upah riil mengalami kenaikan sebesar 0,47 persen.

Download PDF
Ekspor September 2018 mencapai US$14,83 miliar dan Impor September 2018 sebesar US$14,60 miliar turun 13,18 persen dibanding  Agustus 2018

Ekspor September 2018 mencapai US$14,83 miliar dan Impor September 2018 sebesar US$14,60 miliar turun 13,18 persen dibanding Agustus 2018

2018-10-15

EksporNilai ekspor Indonesia September 2018 mencapai US$14,83 miliar atau menurun 6,58 persen dibanding ekspor Agustus 2018. Sementara dibanding September 2017 meningkat 1,70 persen.Ekspor nonmigas September 2018 mencapai US$13,62 miliar, turun 5,67 persen dibanding Agustus 2018. Sementara dibanding ekspor nonmigas September 2017, naik 3,78 persen.Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–September 2018 mencapai US$134,99 miliar atau meningkat 9,41 persen dibanding periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$122,31 miliar atau meningkat 9,29 persen.Penurunan terbesar ekspor nonmigas September 2018 terhadap Agustus 2018 terjadi pada mesin/peralatan listrik sebesar US$98,2 juta (11,48 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$75,3 juta (18,86 persen).Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–September 2018 naik 5,71 persen dibanding periode yang sama tahun 2017, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya naik 31,65 persen, sementara ekspor hasil pertanian turun 8,33 persen.Ekspor nonmigas September 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$1,93 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,49 miliar dan Jepang US$1,33 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,83 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,39 miliar.Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–September 2018 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$22,76 miliar (16,86 persen), diikuti Jawa Timur US$14,26 miliar (10,56 persen) dan Kalimantan Timur US$13,67 miliar (10,13 persen).ImporNilai impor Indonesia September 2018 mencapai US$14,60 miliar atau turun 13,18 persen dibanding Agustus 2018, sebaliknya jika dibandingkan September 2017 naik 14,18 persen. Impor nonmigas September 2018 mencapai US$12,32 miliar atau turun 10,52 persen dibanding Agustus 2018, namun meningkat 13,54 persen dibanding September 2017. Impor migas September 2018 mencapai US$2,28 miliar atau turun 25,20 persen dibanding Agustus 2018 dan meningkat 17,75 persen dibanding September 2017.Penurunan impor nonmigas terbesar September 2018 dibanding Agustus 2018 adalah golongan mesin/peralatan listrik US$259,5 juta (13,22 persen), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan buah-buahan sebesar US$42,2 juta (66,46 persen).Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–September 2018 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$32,48 miliar (27,83 persen), Jepang US$13,31 miliar (11,40 persen), dan Thailand US$8,21 miliar (7,03 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 20,42 persen, sementara dari Uni Eropa 9,11 persen. Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–September 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 26,39 persen, 22,06 persen, dan 27,86 persen.

Download PDF
Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia Agustus 2018 mencapai 1,51 juta kunjungan.

Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia Agustus 2018 mencapai 1,51 juta kunjungan.

2018-10-01

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Agustus 2018 naik 8,44 persen dibanding jumlah kunjungan pada Agustus 2017, yaitu dari 1,39 juta kunjungan menjadi 1,51 juta kunjungan. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Juli 2018, jumlah kunjungan wisman pada Agustus 2018 mengalami penurunan sebesar 1,93 persen. Secara kumulatif (Januari–Agustus 2018), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 10,58 juta kunjungan atau naik 12,30 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2017 yang berjumlah 9,42 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Agustus 2018 mencapai rata-rata 60,01 persen atau naik 2,01 poin dibandingkan dengan TPK Agustus 2017 yang tercatat sebesar 58,00 persen. Demikian pula, jika dibanding TPK Juli 2018, TPK hotel klasifikasi bintang pada Agustus 2018 mengalami kenaikan sebesar 0,71 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama Agustus 2018 tercatat sebesar 1,94 hari, terjadi penurunan 0,03 poin jika dibandingkan keadaan Agustus 2017.

Download PDF
Nilai Tukar Petani (NTP) September 2018 sebesar 103,17 atau naik 0,59 persen. Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani naik 2,40 persen dan Harga Beras Medium di Penggilingan naik 1,50 persen.

Nilai Tukar Petani (NTP) September 2018 sebesar 103,17 atau naik 0,59 persen. Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani naik 2,40 persen dan Harga Beras Medium di Penggilingan naik 1,50 persen.

2018-10-01

- NTPNilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.NTP nasional September 2018 sebesar 103,17 atau naik 0,59 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,26 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) turun sebesar 0,33 persen.Pada September 2018, NTP Provinsi Jambi mengalami kenaikan tertinggi (1,68 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami penurunan terbesar (1,18 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.Pada September 2018 terjadi deflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,59 persen, disebabkan oleh penurunan indeks kelompok Bahan Makanan yang cukup besar, sementara indeks kelompok penyusun Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) lainnya naik.Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional September 2018 sebesar 112,05 atau turun 0,03 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.- GabahDari 1.708 transaksi penjualan gabah di 30 provinsi selama September 2018, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 76,41 persen, gabah kualitas rendah 12,76 persen, dan gabah kering giling (GKG) 10,83 persen.Selama September 2018, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp4.889,00 per kg atau naik 2,40 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.990,00 per kg atau naik 2,46 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada Agustus 2018. Rata-rata harga GKG di petani Rp5.399,00 per kg atau naik 1,71 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.501,00 per kg atau naik 1,86 persen. Harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp4.652,00 per kg atau naik 6,61 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.753,00 per kg atau naik 6,67 persen.Dibandingkan September 2017, rata-rata harga pada September 2018 di tingkat petani untuk kualitas GKP dan gabah kualitas rendah mengalami kenaikan masing-masing 5,03 persen dan 8,79 persen, sedangkan GKG mengalami penurunan sebesar 1,87 persen. Demikian juga di tingkat penggilingan, rata-rata harga pada September 2018 untuk kualitas GKP dan gabah kualitas rendah juga mengalami kenaikan masing-masing 5.21 persen dan 8,81 persen, sedangkan GKG turun sebesar 1,59 persen.Pada September 2018, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.572,00 per kg, naik sebesar 1,20 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp9.310,00 per kg, naik sebesar 1,50 persen. Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp9.125,00 per kg, naik sebesar 1,65 persen.Dibandingkan dengan September 2017, rata-rata harga beras di penggilingan pada September 2018 semua kualitas mengalami kenaikan, untuk kualitas premium sebesar 1,07 persen, kualitas medium sebesar 4,20 persen, dan kualitas rendah sebesar 7,71 persen

Download PDF
September 2018 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas naik 0,08 persen

September 2018 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas naik 0,08 persen

2018-10-01

Pada September 2018, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,08 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 0,96 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada September 2018 antara lain batu bara, rokok kretek, plastik dan barang dari plastik impor, dan kertas/karton ekspor. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada September 2018 naik sebesar 0,57 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh kenaikan harga komoditas besi beton, aspal, tanah uruk, besi lainnya, dan perlengkapan listrik. IHPB Umum naik 0,16 persen pada Agustus 2018 terhadap bulan sebelumnya. Kelompok Barang Ekspor merupakan penyumbang andil dominan pada kenaikan IHPB, yaitu sebesar 0,13 persen. IHPB Kelompok Barang Impor dan Kelompok Barang Ekspor pada Agustus 2018 masing-masing naik sebesar 0,45 persen dan 0,64 persen terhadap bulan sebelumnya.

Download PDF
September 2018 deflasi sebesar 0,18 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Pare-pare sebesar 1,59 persen.

September 2018 deflasi sebesar 0,18 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Pare-pare sebesar 1,59 persen.

2018-10-01

Pada September 2018 terjadi deflasi sebesar 0,18 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 133,83. Dari 82 kota IHK, 66 kota mengalami deflasi dan 16 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Pare-pare sebesar 1,59 persen dengan IHK sebesar 127,39 dan terendah terjadi di Tegal, Singkawang, Samarinda, dan Ternate masing-masing sebesar 0,01 persen dengan IHK masing-masing sebesar 129,95; 137,13; 137,45; dan 136,70. Sementara inflasi tertinggi terjadi di Bengkulu sebesar 0,59 persen dengan IHK sebesar 142,79 dan terendah terjadi di Bungo sebesar 0,01 persen dengan IHK masing-masing sebesar 131,25.Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 1,62 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,29 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,21 persen; kelompok sandang sebesar 0,27 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,41 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,54 persen.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–September) 2018 sebesar 1,94 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2018 terhadap September 2017) sebesar 2,88 persen.Komponen inti pada September 2018 mengalami inflasi sebesar 0,28 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–September) 2018 sebesar 2,38 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (September 2018 terhadap September 2017) sebesar 2,82 persen.

Download PDF